Maka nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang kamu dustakan?


  1. (Allah) Yang Maha Pengasih,
  2. Yang telah mengajarkan Al-Qur’an.
  3. Dia menciptakan manusia,
  4. mengajarnya pandai berbicara.
  5. Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan,
  6. dan tetumbuhan dan pepohonan , keduanya tunduk (kepada-Nya).
  7. Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan,
  8. agar kamu jangan merusak keseimbangan itu.
  9. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu.
  10. Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk-Nya,
  11. di dalamnya ada buah-buahan dari pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang,
  12. dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya.
  13. Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?

[QS. Ar-Rahman : 1-13]

Mungkin masalahnya bukan disana, tapi disini (hati kita)


Pada sebuah majelis, seorang ummahat bercerita tentang kisah suaminya yang terbiasa menunda membalas sms seseorang jika ada perasaan marah atau tidak enak ketika membaca sms tersebut.

Suatu hari, malam ba’da isya ketika semua anggota keluarga sedang bersantai, sang suami mendapatkan pesan di handphonenya. Betapa kaget sang ummahat karena setelah membaca pesan tersebut sang suami beristighfar dengan menampakkan raut muka agak marah. Sesuai kebiasaan, beliau tidak langsung membalas pesan tersebut. Keesokan harinya, sang suami kembali membaca pesan tersebut dan kali ini sang ummahat lebih kaget karena sang suami beristighfar lebih banyak. Akhirnya, sang ummat bertanya kepada suaminya apa yang sebenarnya terjadi,

“Abi, ada sms apa sebenarnya sehingga abi beristighfar seperti itu?”, tanya sang ummahat dengan lembut.

“Astaghfirullah ummi, ketika semalam abi membaca pesan ini, abi merasa tersinggung dengan isi pesannya sehingga abi beristighfar. Dan pagi ini ketika abi membaca pesannya lagi, astaghfirullah, ternyata abi salah paham dengan dengan isi pesannya sehingga abi beristighfar lebih banyak karena hampir saja abi salah sangka dengan pengirimnya. Alhamdulillah abi kemarin tidak langsung membalas smsnya”, cerita sang suami dengan nada lega dan sedikit menyesal karena telah bersalah sangka semalam.

Betapa dari kisah ini, kita bisa mengambil pelajaran bahwa prasangka, kesalahpahaman, dan mungkin berbagai friksi ketika bermuamalah dengan sesama bukan karena mereka yang ingin menyinggung hati kita, tapi mungkin hati kita lah yang sedang bermasalah.

Bukankah orang yang suasana hatinya sedang tidak baik lebih mudah tersinggung daripada mereka yang hatinya sedang berbahagia? 😉

Belahan Jiwa


*Puisi BJ Habibie untuk istri tercinta, Ainun

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. ..
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, …
dan kematian adalah sesuatu yang pasti …
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu ….
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, ..
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi ….
Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang …
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, ..
pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada, …
aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini …
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, ..
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik ..
mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini …
Selamat jalan, ..
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, …
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada …
selamat jalan sayang, ..
cahaya mataku, penyejuk jiwaku, …
selamat jalan, …
calon bidadari surgaku …

– HABIBIE –

Sudah maksimalkah?


Adalah `Abdulloh al-`Azzam, seorang syaikh teladan dan anutan. Dihormati lagi disegani oleh para muridnya.

Pada suatu saat beliau ditanya oleh muridnya, “Ya syaikh, apa yang dimaksud dengan mastatho’tum?”

Sang Syaikh pun membawa muridnya ke lapangan. Meminta semua muridnya berlari sekuat tenaga mengelilingi lapangan semampu mereka. Titik dan waktu keberangkatan sama, akan tetapi waktu akhir dan jumlah putaran setiap murid berbeda.

Satu putaran masih belum terasa. Putaran ke-2 berkurang tenaga. Kini mulai berguguran perlahan di putaran ke-3. Hingga tersisa beberapa saja yang masih berusaha sekuat tenaga. Hingga akhirnya satu persatu merasa lelah, menyerah. Mereka semua pun menepi ke pinggir lapangan, kelelahan. Mereka sudah berusaha sekuat tenaga, semampu mereka.

Setelah semua muridnya menyerah, Sang Syaikh pun tak mau kalah. Beliau berlari mengelilingi lapangan hingga membuat semua muridnya keheranan. Semua murid kaget dan tidak tega melihat gurunya yang sudah tua itu kepayahan. Satu putaran masih berseri-seri. Dua putaran mulai pucat pasi. Tiga putaran mulai kehilangan kendali. Menuju putaran yang ke-4 Sang Syaikh makin tampak kelelahan, raut mukanya memerah, keringat bertetesan, nafas tersengal-sengal tidak beraturan. Tapi beliau tetap berusaha. Terus berlari sekuat tenaga, dari cepat, melambat, melambat lagi, hingga kemudian beliau pun terhuyung tanpa penyangga. Energinya terkuras habis tak tersisa. Beliau jatuh pingsan, tak sadarkan diri.

Setelah beliau siuman dan terbangun, muridnya bertanya, “Syaikh, apa yang hendak engkau ajarkan kepada kami?”

“Muridku, inilah yang dinamakan titik mastatho’tum. Titik di mana saat kita berusaha semaksimal tenaga sampai Alloh sendiri yang menghentikan perjuangan kita,” jawab Sang Syaikh dengan mantap.

(dikutip dari status facebook teman)

————————————————————————————————————————–**

Atas niat-niat kebaikan yang telah kita azzamkan….iringkan ikhtiar terbaik kita, doa sepenuh hati, dan sebaik-baik prasangka  kita hingga Allah yang menghentikan perjuangan kita, memberikan takdir terbaik untuk kita 🙂

Yuk bersama kita berikhtiar, agar lebih ringan langkah kita 😉

there is a will, there is a way…but…


there is a will, there is a way

but….

you must remember that maybe it will not be an easy way 🙂

#pake senyum biar gak nampak berat-berat amat walaupun kenyataannya….insya Allah baik 🙂

 

Yupp….that’s right, you can wanna anything in this world, but just make sure that you can give everything of you to catch your dream. Itulah sebuah keinginan, yang mesti kau buktikan dengan usaha dan segenap hatimu. Karena usaha, doa, dan rintihan hatimulah yang menunjukkan seberapa arti keinginan itu dalam hidupmu…

jalan terjal

 

 

 

 

Duhai hati….


Aku berharap aku memiliki hati seindah berlian

yang tak kan tergores walaupun tajamnya pisau melukainya

yang mampu bertahan akan tempaan hidup

yang tetap kan berkilau memancarkan kebaikan

 

Duhai hati, sampai dimanakah dirimu sekarang?

Masihkah kau bertahan dalam beratnya tempaan tuk menjadi sebening berlian?

Ataukah kau sudah menyerah?

….

Ahh,,,,aku tau, kau jauh lebih kuat untuk menyerah

walaupun kau telah terseok, kau akan terus  berjuang

walaupun berpuluh-puluh kali kau terpikir tuk menyerah,

kau masih menyimpan harapan bahwa kelak kau akan mampu secantik berlian

 

Duhai hati….sungguh aku tau

kau adalah anugerah terindah dari Sang Maha Kuasa

kau yang membantuku di tempat persinggahanku kini

walau seringkali ku lalai menjagamu,

bahkan seringkali ku noktahkan hitam dimukamu

teruslah berharap bahwa kelak kau akan seindah berlian

yang tak lelah memancarkan kilau kebaikan

yang tetap kokoh walau berbagai luka menggoresnya

 

Ahh hati…aku tau kamu bisa

semoga semakin hari ku mampu menjagamu dengan perisai iman yang jauh lebih baik 🙂

berlian