Gagal? (lanjutan Ice Skating?)


Alkisah ada 4 remaja mengunjungi arena ice skating.  Udah pernah liat lomba ice skating kan? tampak mudah dan menyenangkan kan? Meluncur dengan mulusnya diatas terlihat sangat menarik 🙂

Komposisi 4 remaja itu sebut saja A, B, C, dan D. A dan B sudah beberapa kali datang ke arena es tersebut, C baru pernah sekali mencoba mengarungi arena es, sedangkan D baru akan pertama kali ini menggunakan sepatu ice skating dan baru akan pertama kalinya menginjakkan kakinya diatas arena es yang dingin itu.

Lapangan putih lengkap dengan kabutnya sudah dihadapan 4 remaja itu, setelah mereka menemukan ukuran sepatu yang cocok dan aman, bergeraklah mereka menuju arena pertandingan (pertandingan melawan diri sendiri tepatnya 😀 ). D mengambil langkah pertama dengan penuh pertimbangan, dia masih membayangkan kalau meluncur di atas es itu bakal bisa dia lalui dengan mudah. Tak perlu beberapa kali datang ke arena ice skating, dia yakin bahwa sekali saja dia mencoba akan langsung berhasil meluncur dengan cantik di atas es :D.

Ketika mesti jatuh dalam proses belajarnya, D sudah memprediksinya dan dia siap. Dia sangat yakin bahwa dia akan bisa menyelesaikan pertarungan ini dalam satu ronde.

Adakalanya sebagian orang berani memiliki cita, mereka pun bertekad untuk meraih citanya dengan segala konsekuensi yang telah mereka persiapkan. Langkah pertama pun diambil dengan percaya diri.

slurrrtt…ternyata lantai es itu sangat licin. Bersyukur dia waspada  dan  berpegangan erat pada gagang pengaman di sekeliling ring es, sehingga tak terjatuh. Tapi dia jadi lebih berhati-hati dan mencoba belajar perlahan.

langkah pertama tak selalu mudah, mungkin di langkah pertama itulah kita baru akan menyadari rintangan sesungguhnya yang akan menghadang di depan

pelan-pelan dia melangkah sdangkan  tangannya terus memegang erat gagang pengaman di sekeliling lantai es. Langkah pertama, langkah kedua, langkah ketiga dilalui dengan pelan dan penuh rasa was-was. Bayang-bayang jatuh menghantui pikirannya.

mengerti rintangan dihadapannya, seringkali membuat kita terlalu banyak berpikir untuk menghindari ‘sakit’nya jatuh, segala syarat mulai kita bikin dalam pikiran kita, jangan begini, jangan begitu, dll demi mencegah diri kita merasakan sakit. 

melihat tak ada kemajuan, akhirnya dia memutuskan untuk belajar tanpa berpegangan pada gagang pengaman, dia telah siap untuk jatuh dan merasakan sakitnya. Satu langkah dua langkah dia berhasil melangkah tanpa berpegangan hingga akhirnya keseimbangannya sedikit goyah dan

gedebuk!! dia terjatuh pelan. Mau bangun juga bingung, ternyata berdiri lagi sehabis jatuh itu tidak mudah, licin bangeeet katanya. Namun, seketika tampak satu tangan terulur, ingin membantunya berdiri. Yap! berkat bantuan orang disekitarnya, sekarang dia sudah bisa berdiri tegak di panggung es tersebut. Dia tersenyum senang karena akhirnya tau kalo rasanya jatuh itu tak sesakit yang dia takutkan. Kali ini dia jadi lebih berani mengayunkan kakinya di lantai es itu. Masih perlahan namun pasti, senyum makin terkembang, ayunan langkah makin kencang. Progress belajar dia maju pesat, tinggal selangkah lagi hingga dia bisa meluncur dengan cantik layaknya dua temannya yang lain. Hingga akhirnya,

Gedubraaaaakkkkkkk..

tangan kanannya refleks menyangga tubuh untuk mencegah tubuhnya terhempas lebih keras. Tangannya terasa cukup nyeri karena tertekan terlalu keras, bagian punggung pun tak kalah sakit karena jatuh yang tak disangka-sangka tadi. Untuk mampu berdiri lagi pun tak semudah jatuh yang pertama, bukan karena patah tulang, tapi karena dia sendiri cukup terkejut dan tangan kanannya terasa sakit untuk ditarik dan menyangga tubuhnya. Sejenak dia diam dalam posisi duduk di atas es, meredakan kekagetaannya dan kemudian mencoba berdiri kembali. Dia memilih untuk sejenak keluar dari ring es dan duduk menikmati pemandangan. Ada anak kecil yang sudah sangat mahir menari di atas es, ada kakak-kakak yang sedang belajar seperti dirinya, ada teman-temannya yang mencoba gaya baru, dll.  Cukup lama Ia beristirahat, bukan untuk menghilangkan rasa sakit tangannya. Karena rasa sakit itu sudah menghilang sejak tadi, tapi untuk memulihkan keberanian dia untuk kembali percaya diri belajar di panggung es tersebut.

begitu pula jalan menuju cita, kita telah bersiap untuk kegagalan-kegagalan yang telah kita prediksi, kita semakin berani untuk berlari maju menuju cita. Sejenak cita itu mulai tampak dihadapan mata, hingga akhirnya kita terjatuh keras. Terkejut selalu menjadi ekspresi normal, namun tak sedikit yang akhirnya trauma dan menyerah ketika mesti merasakan kejatuhan yang hebat sesaat sebelum cita-citanya tergapai. Itulah hidup, dibatas limit kita lah terkadang ujian itu datang. Disitulah sebenar-benarnya kita membuktikan apakah kita telah cukup pantas meraih cita-cita kita.

Bagi yang telah merasakan pahitnya kegagalan, apa pilihanmu? Berhenti atau  berdiri dan berlari untuk kembali untuk mengejar cita-cita??

 

 

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s