Sebuah Renungan..


Rasanya ingin berbagi cerita dari sebuah buku yang sedang dibaca

 

Rasa kebersamaan dengan Allah setiap waktu, atau menghayati pengawasan Allah SWT kepada kita setiap saat, merupakan salah satu cara kita bisa terhindar dari banyak dan beruang-ulang melakukan kesalahan. Seperti dikisahkan Sahal bin Abdullah At tasatturi yang mengatakan,” Dahulu ketika aku masih berusia tiga tahun, aku berdiri di suatu malam melihat shalat malam yang dilakukan pamanku Muhammad bin Suwar. Ia mengatakan kepadaku,” Wahai Sahal, mengapa engkau tidak berdzikir pada kepada Allah yang menciptakanmu?” Aku menjawab,” Bagaimana caranya aku berdzikir kepada-Nya?” Ia mengatakan,”Dengan hatimu saat engkau berganti pakaian. Ucapkanlah tiga kali tanpa menggerakkan lisanmu : Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah menyaksikanku.” Aku lalu mempraktekkan apa yang disampaikan pamanku itu dalam beberapa hari, dan aku lalu memberitahukan kepadanya. Ia mengatakan ,” Katakan seperti itu setiap malam tujuh kali.” Aku pun  melakukannya. Aku merasa hatiku nikmat melakukannya. Hingga setelah satu tahun berlalu, pamanku berkata,” Ingatlah apa yang telah aku beritahukan kepadamu. Lakukan terus sampai engkau masuk ke liang kubur. Itu sangat bermanfaat bagimu di dunia dan akhiratmu.” Sampai bertahun-tahun setelah itu aku terus melakukannya. Aku benar-benar merasakan nikmat dalam kesendirianku. Sampai suatu ketika, pamanku berkata lagi kepadaku, ” Wahai Sahal, barangsiapa yang merasakan Allah bersamanya, melihatnya, dan menyaksikannya, maka ia tak akan pernah bermaksiat kepada-Nya. Hati-hatilah engkau dari kemaksiatan.”

(Ihyaa Ulumuddin, 3/74)

 

Saudaraku,

Sadarilah baik-baik bahwa Allah SWT memang selalu memperhatikan dan melihat semua gerak-gerik kita. Yang secara kasat terlihat bahkan juga yang terbersit dalam hati. Sadari juga bahwa Allah SWT Maha Rahmah, Maha Kasih Sayang, meski terhadap hamba-Nya yang melakukan kemaksiatan sekalipun. Agar hati kita selalu optimis untuk memohon ampun dan segera merubah langkah yang terlanjur menyimpang.

 

Dengarkanlah kisah menarik untuk direnungi. Yusuf Al Husein bercerita, ketika ia pergi bersama Dzin Nun Al Mishri ditepi sebuah sungai. Ia melihat seekor kalajengking besar. Didekatnya muncul seekor katak yang juga besar. Kalajengking itu lalu naik ke punggung katak yang kemudian menyeberang ke sisi sungai lain. Dzin Nun mengatakan ” Kalajengking itu punya suatu keperluan…! Ayo kita ikuti dia.” Kami lalu mengikuti kalajengking itu yang ternyata menghampiri seorang yang sedang tidur dalam kondisi mabuk. Tak lama kemudia muncul seekor ular berbisa yang merayap ingin menggigit orang yang sedang tidur itu. Tapi ia seperti meminta izin kepada kalajengking besar yang juga ada di dekat pemabuk yang tertidur. Kalajengking lalu mencapit ular tersebut hingga lari dan tak lama kemudian ia lalu kembali ke arah tepi sungai dan menaiki punggung katak tadi membawanya hingga menyeberang ke sisi sungai yang lain. Dzin Nun membangunkan pemabuk yang tertidur itu lalu mengatakan,”Lihatlah, bagaimana Allah menyelamatkan hidupmu. Kalajengking itu. Allah utus kepadamu untuk menyelamatkanmu dari ular yang ingin menggigitmu. Pemuda itu terkejut dan mengatakan,” Inikah yang Engkau lakukan terhadap orang yang telah bermaksiat kepada-Mu? Bagaimana kebaikan-Mu dan kasih sayang-Mu terhadap orang yang berlaku taat kepada-Mu?” Orang itu pun lalu pergi. Dzin Nun bertanya,” Mau kemana?” Ia menjawab.”Ke rumah Allah, untuk taat kepada Allah….”

(At Tawwabiin, Ibnu Quddamah, 227)

 

Ini penggalan bab dari buku” Ajak jiwamu berbicara, alirkan keinsyafan. Diriku, bagaimana kabarmu?”

Wallahu’alam

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s