Saya Udah Dewasa kok..


******

“Dulu waktu ibu seusia kamu ini, pagi-pagi pergi ke sawah nganterin makanan, siangnya bantuin jualan di pasar, sore masak buat sekeluarga, lha kok kamu sekarang kayak begini, disuruh bantuin dikit aja udah manyun!!”

Yah bu..kan sekarang udah beda zaman bu..udah gak ada sawah dan trus gak ada juga yang bisa dibantuin jualan..*dalam hati

Itu sekelumit kisah yang mungkin pernah dialami sebagian anak muda jaman sekarang (generalisasi kisah sendiri :P)–> itu masa lalu, sekarang udah jadi anak baik kok,,

*hmm…kayaknya sih

******

Namanya Abdullah. Anak sang Khalifah terkenal Umar bin Abdul Aziz. Anak itulah yang menegur sang Khalifah di ashar yang melelahkan, di hari ketika sang ayah diangkat menjadi Khalifah. Sang ayah benar-benar letih setelah seharian mengurus jenazah pamannya, khalifah yang digantikannya, juga menerima kunjungan orang-orang yang menyampaikan doa ta’ziah.

“Ada apa anakku, aku hanya ingin istirahat sejenak,” tanya Umar pada anaknya yang menyusul.

Sang anak menjawab, “ Apakah engkau bisa menjamin bahwa kematian tidak datang, sementara rakyat engkau di depan pintu sudah menunggu, sedang engkau menghalangi diri?” Seketika sang Khalifah keluar. Ia sama sekali tidak jadi istirahat.
Dibandingin ma cerita sebelumnya bak langit ma bumi lah..beda banget!!

******

Nah akhirnya dari cerita di atas mucullah pertanyaan-pertanyaan..

Jika di usia yang masih belia saja, ibu saya bisa cukup dewasa untuk ikut membantu beban orangtuanya, apakah sah-sah aja jika saya dan anak muda yang lain beralasan ‘kan udah beda zaman’ untuk menghindari sebuah tanggungjawab??

Jika SMA dianggap sebagai fase romantisme dan masa-masa bahagia, kemudian kuliah dianggap sebagai masanya penjarian jati diri, maka pertanyaannya sekarang, kapan rata-rata pemuda-pemudi Indonesia memasuki fase dewasa??

Jadi berapa banyak waktu kita yang produktif dan bermanfaat??

Bukankah kita sendiri tak pernah tahu kapan jatah waktu kita didunia ini berakhir ?? dan bukankah setiap dari kita akan mempertanggungjawabkan kehidupan kita kelak di akhirat??

Selalu ada orang-orang yang gemar tawar menawar. Termasuk menawar pilihan hidup yang semestinya diambil dengan sangat segera. Seperti anak-anak yang kelewat matang sisi biologisnya tapi sangat mentah psikologinya. Mereka selalu mengatakan, bahwa memilih jalan yang menyimpang, hanyalah sekedar tafsiran fakta. Mereka bangga merasa tidak munafik, dengan penyimpangan itu. Toh ia merasa dirinya masih sangat muda. Masih ada hari tua, pikirnya.

******

Berani dewasa adalah keputusan jiwa yang sangat tidak sederhana. Sebab ia seringkali berada dalam situasi lahiriyah yang sangat kontras. Kita kanak-kanak, misalnya, tapi kita harus tumbuh dalam kemengertian yang maju. Kita miskin, misalnya, tapi kita harus menuntun hati dan menekan kehendak-kehendak kemewahan yang tak sampai. Kita kaya raya, misalnya, tapi kita harus memerangi keangkuhan dan naluri semena-mena yang dipicu oleh kekayaan itu. Kita punya keterbatasan, misalnya, tapi kita harus tetap berjuang dan menggerakkan segala upaya agar kita menjadi sesuatu. Kita pintar, misalnya, tapi kita harus arif dan terus meyakini bahwa diatas yang bisa masih ada yang lebih bisa. Begitulah kedewasaan mengairi takdir-takdir jalan hidup kita dengan kejelasan arah, kejernihan sudut pandang, tetapi dengan vitalitas yang terus menyala.

Berani dewasa adalah pilihan hidup yang tidak sederhana. Ini bukan semata soal bertambahnya usia. Tapi berani dewasa adalah keputusan sikap, sudut pandang, pikiran, dan tindakan yang benar-benar didasarkan pada kesadaran penuh. Kuncinya pada kematangan, kekuatan pijakan, tujuan akhir yang seterang matahari di puncak siang. Tentu ruh dasar dan fundamentalnya jelas-jelas iman. Tetapi proses berani dewasa adalah situasi demi situasi yang kita bangun dari rangkaian sikap demi sikap. Yang kita pupuk dengan ketulusan demi ketulusan. Yang kita rajut dari tabungan demi tabungan hikmah dan renungan jiwa kita.

[Referensi dan kutipan dari buku ‘Hidup Tak Mengenal Siaran Tunda’]

******

As you mature, the more regrets you’ll have
You can only move forward fighting those regrets
[Zettai Reido season2]

******

Dan ada pertanyaan terakhir sih yang berkecamuk juga
Apa sistem pendidikan saat ini begitu memanjakan murid-muridnya sehingga mereka terjebak dan terlena pada zona nyaman mereka?

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s