Sebuah kepahitan


Penyesalan dan rasa bersalah adalah dua hal yang bisa membuatku sangat terpuruk dalam satu waktu yang berkepanjangan. Terlebih jika penyesalan dan rasa bersalah itu adalah akibat dari suatu tindakanku yang memnyebabkan luka pada orang lain. Aku akan merasa sedih dan sangat bersalah jika ada orang lain yang terluka karena sifat, ucapan ataupun perbuatanku. Aku sangat ingin selama hidupku tak ada orang yang terluka karenaku..

Tapi..

bukankah jalan kehidupan ini tak semulus harapan kita??

Di depan sana, di jalan kehidupan kita

Terhampar tanjakan curam nan terjal,

jalan nan sempit dengan dua jurang disisinya,

duri-duri yang membuat kaki kita perih karena luka,

dan disana juga banyak lubang yang kan membuat kita terjatuh dan terpuruk

Kawan, lubang itu ada yang bernama lubang kesedihan, lubang penyesalan, lubang rasa bersalah, lubang kegagalan, lubang futur, dan masih banyak lagi lubang yang lain. Setiap orang pasti tak ingin terjatuh pada lubang-lubang itu, tapi..bukan kehidupan namanya jika jalan yang kita lalui mulus-mulus saja. Adakalanya kita mesti jatuh pada lubang-lubang itu untuk dapat melangkah ke depan hingga kita bertemu dengan ujung dari kehidupan \ini.

Berkaitan dengan lubang kehidupan di atas, beberapa hari yang lalu, aku ikut dalam sebuah kepanitiaan dimana aku menjadi salah satu tim intinya yang bertanggung jawab pada keberjalanan satu divisi. Ternyata harapanku tak sejalan dengan kenyataan. Merasa sudah pede dengan bekal pengalaman kepanitiaan sebelumnya, dan di saat yang sama sedang berada pada tingkat ruhiyah yang cukup buruk. Saya membuat sebuah keputusan yang saya sendiri tak menyadari apa baik buruk dari keputusan tersebut. Yang pada akhirnya keputusan itu berakibat pada kekacauan acara dan turut andil dalam membuat seorang temanku celaka. Mau tak mau rasa bersalah itupun mendera hingga beberapa hari lamanya. Andai maaf dapat mengembalikan semua seperti semula, namun apa daya yang telah terjadi tak kan dapat diubah lagi. Dalam beberapa hari tersebut rasanya ku ingin jauh dari semua orang dan menyendiri. Pada saat itu, bukan hanya rasa bersalah yang mendera, tapi kefuturan juga turut menyertai dimana seakan-akan kurva keimanan sedang berada pada titik terendahnya.

Namun kawan,,,

Akhirnya aku menyadari bahwa, tindakanku menjauh dari orang hanyalah tindakan pengecut yang tak bertanggungjawab yang tak mau menghadapi kenyataan di depan mata, selain itu ku juga sadar bahwa merasa bersalah dan penyesalan yang berlebihan hanya akan menimbulkan penyesalan lain di kemudian hari.

Kawan,

Jika saat ini kalian sedang berada pada situasi seperti di atas, maka bangunlah kawan,,hadapi kenyataan yang ada di depan, jangan pernah takut karena Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang pada hamba-Nya. Jangan sampai kalian menyesal tuk kedua kalinya karena penyesalan yang berlebihan seperti yang terjadi pada kalian saat ini.

Kawan,,

Jika penyesalan dan rasa bersalah adalah salah satu lubang di jalan kehidupan kita maka jangan kau artikan ketika kau jatuh pada lubang-lubang itu maka kau berarti telah gagal. Bukan kawan..jika sekarang kau jatuh maka berarti kau telah mengambil satu langkah lebih maju tuk mencapai akhir perjalanan ini. Hanya orang-orang yang takut tuk melangkah majulah yang tak kan pernah jatuh. Jika kini kau jatuh maka bangkitlah dan bangunlah, keluarlah dari lubang itu untuk melangkah lebih maju lagi di jalan kehidupan ini. Jangan pernah takut jika suatu saat kau terjatuh lagi pada lubang-lubang itu, karena yakinlah bahwa jika kau sekarang jatuh maka kau akan dapat bangkit dan melangkah lebih maju tuk mencapai akhir yang indah dari jalan kehidupan ini..^_^

Advertisement

2 thoughts on “Sebuah kepahitan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s