Apa kita seorang Mukmin?


Assalamu’alaikum Wr. Wb
Berikut adalah kutipan salah satu bab dari buku yang sedang saya baca, semoga bermanfaat..

*****
Sejak pertama melangkahkan kaki di sini setiap kita harusnya tahu, bahwa kitasedang berada dalam proses hijrah kepada Allah SWT. Kita sedang berjalan dan berlari menuju Allah SWT. Hanya Allah saja. Kita juga harus mengerti bahwa proses perjalanan itu tidak mudah. Jalan ini ibarat tangga yang menjulang ke atas dan bertingkat-tingkat. Kita menaikinya satu-satu, setingkat-demi setingkat. Hingga ke anak tangga yang terakhir.
Seperti yang dikisahkan tentang seorang Tabi’in bernama Tsabit Al Banani di ujung hayatnya. Ketika itu ia dikelilingi sahabatnya. Mereka berupaya mentalqinkan Tsabit yang saat itu memasuki fase sakaratul maut. Tapi, sungguh mengejutkan karena ketika itu Tsabit mengatakan kepada mereka,”Saudaraku, jangan ganggu aku, aku sedang menuntaskan wiridku yang keenam.” (Shaidul Khatir, 50)

Saudaraku,
Sungguh mulia perjalanan para salafushalih. Orang-orang yang menemani mereka bertutur kagum tentang perjalanan hidup mereka. Seorang ahli hadits bernama Ibrahim Al Harabi, mengisahkan pengalamannya selama bertahun-tahun menemani tokoh salafushalih Imam Ahmad bin Hambal. Dengarkanlah perkataannya,” Aku telah menemaninya (Imam Ahmad bin Hambal) selama 20 tahun. Kami melewati musim kemaraudan musim hujan, musim panas dan musim dingin. Sementara aku tidak pernah mendapatinya pada suatu hari, kecuali ia dalam kondisi lebih baik dari harinya yang kemarin” (Manaqih Ahmad, Ibnul Jauzi, 40)
Menjadi lebih baik dari hari yang kemarin. Selama bertahun-tahun. Itulah barangkali makna tangga kehidupan menuju Allah SWT. Semakin hari semakin tinggi, semakin mendaki, semakin mendekta ke langit. Betapa indahnya, orang yang bias menerapkan kaidah seperti itu, ketika tapak-tapak usia membuktikan sebuah perjalanan yang semakin mahal nilainya. Di saat jejak umur semakin lama semakin menambah kemuliaan seseorang. Ketika perguliran hari, bulan, dan tahun, menjadi pertambahan kita saat menuai pahala, balasan dari Allah SWT. Disaat perjalanan waktu, terus menerus menambah kedekatan kita kepada kebahagiaan akhirat.
Tapi sedikit sekali di antara kita yang bisa menepati prinsip itu.

Saudaraku,
Dahulu ada sahabat Rasulullah SAW, yang kerap menyadari jikalau dirinya lemah dan banyak kekurangan mengisi hari-harinya untuk beramal. Abu Dzar Al Ghifari ra., namanya. Ia adalah tokoh sahabat yang telah mengukir prestasi mengagumkan dalam fase perjuangan sejarah awal dakwah Islam. Tapi ia kerap merasakan kelemahan dan ketidakberdayaan dirinya daloam menuaikan amanah yang Allah berikan padanya. Hingga suatu hari, ia dating kepada Rasulullah SAW dan berkata, “ Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku ternyata lemah dalam melakukan amal-amalku?”
Begitulah pertanyaannya kepada Rasulullah di tengah prestasi ubudiyah dan perjuangannya yang luar biasa. Abu Dzar mengakui kekurangan dirinya secara terus terang di hadapan Rsulullah SAW. Ia tidak menoleh seberapa bagus ibadah dan nilai perjuangannyayang telah ia tunaikan bersama Rasulullah SAW. Ia juga tidak segan untuk mengakui kelemahan itu di hadapan orang lain. Ketika itu, Rasulullah SAW berpesan kepadanya,” Peliharalah orang lain dari keburukanmu. Itu saja sudah merupakan shadaqah darimu untuk dirimu sendiri.”(HR Muslim)

Saudaraku,
Beramallah dalam hidup ini,tanpa perlu membanding-bandingkan kelebihan amal-amal kita dengan orang lain. Membanding-bandingkan dan mengukur0ukur kelebihan amal-amal kita dengan orang lain , bisa menjerumuskan kita menjadi ujub dan sombong. Padahal Ibnul Harits Al Hafi mendefinisikan kesombongan dan ujub itu dengan ungkapan, “ Jika engkau merasakan amlmu banyak sedangkan amal orang selainmu sedikit”.
Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid, seorang ulama yang banyak menuangkan nasihat-nasihat ruhani dalam banyak bukunya, membuat satu sub judul pendek yang berisi tentang ujub. Judul itu berbunyi “laa tarfa’ si’ rak, yang artinya, jangan jual mahal. Yang dimaksud Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid adalah agar kitatidak cenderung memandang diri sendiri lebih baik dari orang lain. Betapapun secara lahiriyah banyak orang yang mendudukkan kita seperti itu. Tidak merasa diri lebih berprestasi, lebih banyak berperan,lebih sering beramal dari orang lain.
Menyentuh sekali perkataan Fudhail bin Iyadh rahimahullah saat menyinggung masalah ini. Katanya, iblis akan menang atas Bani Adam, hanya dengan menjadikan manusia memiliki satu dari tiga perilaku.”Jika aku sudah dapat satu saja, aku tidak akan meminta lainnya,” begitu kata iblis seperti diungkapkan oleh Fudhail. Tiga perilaku itu adalah : Ujubnya seseorang pada dirinya, atau menganggap banyaknya amal yang telah dilakukannya, atau melupakan dosa-dosanya. “ Itulah pangkal dosa menurut Fudhail.
Konon ada perkataan Nabiyullah Isa as yang menyebutkan,” berapa banyak lentera yang amti karena teriup angin. Berapa banyak ibadah yang pahalanya rusak oleh kesombongan. Amal sholeh adalah cahaya. Dan cahaya itu bisa padam oleh angin ujub dan kesombongan.”

Saudaraku,
Semoga cahaya amal shalih kita tidak mati oleh perasaan kita sendiri. Semoga keimanan kita tidak redup oleh kebanggan kita sekadar telah mendapatkan penilaian dan pandangan orang yang baiktentang kita. i
Dahulu, Hasan Al Bashri rahimahullah tidak merasa yakin untuk mengatakan dirinya pasti beriman,lantaran kekhawatirannya bila Allah memandang aml-amal yang dilakukan ternyata tidak sesuai dengan tuntutan keimanannya. Ia pernah ditanya,” Ya Hasan, apakah engkau seorang mukmin?” Hasan Al Bashri hanya menjawab ,”InsyaAllah.” Penanya terkejut dengan jawaban Hasan Al Bashriitu, “ Kenapa engkau menjawab seperti itu?” Ulam yang terkenal zuhud pada masa Tabi’in itu lalu mengatakan,” Aku takut ketika aku mengatakan ‘Ya, Aku Mukmin’, tapi Allah mengatakan ‘ engkau bohong’. Karena itulah aku katakana InsyaAllah. Aku tidak merasa aman jika suatu ketika Allah mendapatiku melakukan apa yang Ia benci,lalu Ia murka padaku dan mengatakan ,”Pergilah Aku tidak menerima amal-amalmu.”

Saudaraku apa kita seorang Mukmin?
********
Dikutip dari buku Mencari Mutiara di Dasar Hati karangan Muhammad Nursani, Tarbawi Press.

wassalamu’alaikum wr.wb

Advertisement

2 thoughts on “Apa kita seorang Mukmin?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s